Desa Tlogo yang terletak di Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, memiliki pesona tersendiri saat merayakan Hari Raya Idul Fitri. Berada di kawasan yang sejuk dengan latar belakang perbukitan dan hamparan perkebunan karet, suasana lebaran di sini memadukan kekhusyukan ibadah dengan kearifan lokal pedesaan yang kental.
Tradisi Maleman dan Persiapan Desa
Menjelang Idul Fitri, warga Desa Tlogo biasanya menyambut malam-malam terakhir Ramadan dengan tradisi Maleman. Mushola dan masjid di setiap dusun tampak lebih terang dengan lampu hias atau obor, sementara warga mulai sibuk menyiapkan hidangan khas. Aroma tumis rebung, opor ayam, dan sambal goreng krecek mulai tercium dari dapur-dapur rumah warga, menandakan hari kemenangan segera tiba.
Gema Takbir dan Shalat Id yang Khidmat
Puncak perayaan dimulai saat gema takbir berkumandang dari pengeras suara Masjid Jami’ dan mushola di pelosok desa. Pada pagi hari 1 Syawal, warga berbondong-bondong menuju lapangan atau masjid dengan pakaian terbaik mereka. Di Desa Tlogo, pemandangan jamaah yang berjalan kaki melintasi jalanan desa yang asri menuju tempat shalat Id menjadi simbol kebersamaan yang sangat kuat.
Keunikan Lebaran di Tlogo:
-
Tradisi Ujung (Sungkeman): Setelah shalat Id, tradisi "ujung" atau berkeliling rumah warga menjadi agenda utama. Anak muda mendatangi rumah orang tua dan sesepuh desa untuk memohon maaf. Keunikannya terletak pada keramahan warga yang selalu menyediakan jajanan tradisional seperti kerupuk rambak, kacang goreng, dan aneka kue kering di meja tamu.
-
Ziarah Kubur: Warga Desa Tlogo biasanya menyempatkan diri berziarah ke makam keluarga setelah silaturahmi. Makam-makam di perbukitan desa menjadi ramai oleh taburan bunga mawar dan doa-doa yang dipanjatkan untuk leluhur.
-
Silaturahmi Antar-Tetangga: Mengingat letaknya yang strategis di jalur utama namun tetap memiliki nuansa desa yang kuat, momen Idul Fitri di Tlogo sering kali menjadi ajang reuni bagi warga yang merantau ke Semarang, Solo, atau Jakarta.
Makna Kebersamaan
Idul Fitri di Desa Tlogo bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan perekat sosial. Di tengah kesejukan udara Tuntang, hari raya ini menjadi momen untuk mempererat tali persaudaraan antarwarga petani, pekebun, hingga pegawai yang pulang kampung. Kerukunan ini tercermin dari sikap saling kunjung-mengunjungi tanpa memandang status sosial.
Lebaran di Desa Tlogo mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati terletak pada kesederhanaan dan ketulusan hati untuk saling memaafkan di bawah langit Kabupaten Semarang yang damai.
By Admin Pemdes Tlogo